Wonosobo berasal dari bahasa sansekerta “ WAUNA” dan “SEBA”. WAUNA
yang artinya ssebuah tempat /Dusun/Desa yang derajadnya lebih tinggi
daripada SIMA, dan sima sendiri merupakan dataran tertinggi daripada
Desa, boleh dikata kalau sekarang sebuah Kabupaten. Seba adalah tempat
bertemunya para pandita.
Pada zaman dulu Dieng merupakan tempat
bertemunya para pandita dari berbagai penjuru Dunia melalui pantai utara
Pulau Jawa, kapal yang ditumpangi oleh para pandita merapat melalui
dermaga di wilayah Kabupeten Batang, lalu menuju ke Dieng hal tersebut
dibuktikan dengan adanya peninggalan purbakala antara lain: Anda Budha,
Candi-candi, tingkat bawanda dan barang-barang perhiasan dari emas
(menurut Dr. Kusnin seorang arkeologi menuturkan bahwa Dieng merupakan
pusat kebudayaan, Hindhu tertua yang bersejarah perlu sekali
dilestarikan dan menurut beliau juga, kepustakaan tentang Dieng ada
Leiden Belanda).
Pada zaman dulu Dieng merupakan tempat
bertemunya para pandita dari berbagai penjuru Dunia melalui pantai utara
Pulau Jawa, kapal yang ditumpangi oleh para pandita merapat melalui
dermaga di wilayah Kabupeten Batang, lalu menuju ke Dieng hal tersebut
dibuktikan dengan adanya peninggalan purbakala antara lain: Anda Budha,
Candi-candi, tingkat bawanda dan barang-barang perhiasan dari emas
(menurut Dr. Kusnin seorang arkeologi menuturkan bahwa Dieng merupakan
pusat kebudayaan, Hindhu tertua yang bersejarah perlu sekali
dilestarikan dan menurut beliau juga, kepustakaan tentang Dieng ada
Leiden Belanda).
Permulaan sejarah Wonosobo ditengarai dengan
datangnya 3 tokoh pada abad ke 17, yaitu Kyai Kolodete, Kyai Walik, Kyai
Karim. Ketiganya datang ke Wonosobo dengan sanak keluarganya. Sesaat
itu kondisi Wonosobo masih merupakan hamparan hutan belantara yang amat
menakutkan, 2 gunung pengayom mengawasi dari timur, gunung sumbing dan
Gunung sindoro, singkat kata jarang orang berani mengarungi hutan
kawasan Wonosobo, bebasan “ SATO MARA KEPLAYU, JANMA MARA JATI”.
Tiga tokoh di atas diyakini keberaniannya telah berhasil mendirikan kota Wonosobo dengan peran masing-masing ialah: Kyai Walik sebagai tokoh perancang kota, Kyai Karim sebagai tokoh yang mampu meletakkan sendi-sendi dasar pemerintahan, sementara itu Kyai Kolodete memang tidak begitu jelas peranannya, Namun Kyai Kolodete dikenal sebagai pennguasa di daerah Dataran Tinggi dieng.
Tiga tokoh di atas diyakini keberaniannya telah berhasil mendirikan kota Wonosobo dengan peran masing-masing ialah: Kyai Walik sebagai tokoh perancang kota, Kyai Karim sebagai tokoh yang mampu meletakkan sendi-sendi dasar pemerintahan, sementara itu Kyai Kolodete memang tidak begitu jelas peranannya, Namun Kyai Kolodete dikenal sebagai pennguasa di daerah Dataran Tinggi dieng.
Tonggak sejarah Kabupaten
Wonosobo dimulai dengan pemerintahan yang dipimpin oleh Raden Muh.
Ngarpah sebagai Bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden
Tumenggung(KRT) Setjanegara.



10.26
0 komentar:
Posting Komentar